Tuesday, January 24, 2012

dengan ibu, aku bisa tanpa ayah


Hal sepele memang, tapi menurutku saat itu kata-kata ibuku sangat aku ingat. Ketika itu aku harus mendatangi tes ujian saringan masuk STIS di gor ambangrogo yogyakarta. waktu itu aku belum hapal jalanan di yogyakarta, sehingga aku memutuskan untuk pergi bersama-sama teman-teman perempuanku. Kita yang sudah janjian di sebuah tempat, pukul enam pagi pun kita sudah berkumpul semua dan segera berangkat. mengingat perjalanan yang cukup jauh, semua teman-temanku yang diantar oleh ayahnya masing-masing, sementara aku yang harus pergi dengan ibuku seorang. Sesaat waktu perjalanan ibuku pernah berkata ‘’maap yo nduk, koe raiso diterke bapakmu’’. Kata-kata itu spontan membuatku sangat terharu, rasanya ingin menangis saja. Aku menjawab dengan tegas bahwa aku gapapa, aku kuat bu, aku bisa pergi sendiri tanpa diantar bapak, aku tidak iri dengan teman-temanku yang diantar ayah mereka. Aku bisa bu, aku bisa... hal itu yang aku tegaskan pada ibuku. Aku gapapa, aku bisa. Dengan ibu saja, aku sudah sangat merasa senang. Tak usah mempedulikan keadaan orang lain, aku sudah cukup senang dengan keadaan seperti ini, dimana ibuku sudah rela ikhlas mengantarku, sudah mau menungguku ujian, terimakasih ibu. Maaf membuat repot ibu, sudah membuat ibu lelah karena telah mengantarku dan menungguku. Terimakasih ibu, asal dengan ibu aku bisa bu.. kaulah ayah sekaligus ibuku.. terimakasih..

Hal kecil lainnya ketika aku harus melakukannya sendiri tanpa ayahku. Seperti harus mengurus sepeda motor sendiri, mengingat ayahku yang selalu mengurusnya. Seperti harus bisa mengangkat aqua galon ke dispenser sendiri mengingat ayahku yang selalu membantuku. Seperti harus menjahit tasku yang rusak sendirian mengingat ayahku yang dulu mahir menjahitkan buatku. Seperti harus bisa memasang paku ke tembok sendirian, seperti harus bisa menggeser almari sendirian, seperti harus bisa membenahi antena televisi yang rusak. Ahh begitu banyak hal yang aku bisa setelah ayahku tak ada. Itulah hikmah yang sebenarnya..

Monday, January 23, 2012

aku tak paham waktu itu


Tiga tahun yang lalu, saat aku masih bisa melihat ayahku, masih bersamanya. Ketika aku akan menginjakkan kakiku ke kelas dua SMA, ada sebuah pertemuan wali murid yang diadakan untuk memberikan sosialisasi kepada para wali murid tentang penjurusan yang akan dimulai saat naik kelas nanti. Saat itu aku yang bersikeras meminta hanya boleh ibuku lah yang bisa datang ke pertemuan tersebut, entah kenapa aku tak ingin meminta ayahku untuk menghadiri pertemuan itu. ya alasan simpel menurutku, ayahku yang biasanya cuek mungkin tak akan mencatat hala-hala penting yang akan disampaikan bapak kepala sekolah nanti, jadi aku meminta ibuku saja yang datang menghadiri pertemuan tersebut.

Tapi ayahku pun bersikeras untuk tetap menghadiri pertemuan itu tanpa persetujuan ku, entah kenapa hal sekecil itu saja aku terlalu mempeributkannya. Entah kenapa seperti itu aku yang manja, tak mau tau dan sebegitu tak acuhnya keinginan ayahku waktu itu. ayahku pernah bilang waktu itu kalau dia akan datang ke pertemuan sekolahku satu kali itu saja, untuk pertemuan selanjutnya pasti ibuku yang datang. Tenang saja kata ayahku yang sangat santai itu. kata-kata itu entah kenapa yang selalu aku ingat bila mengingat saat-saat kehilangan ayahku.

Aku tak pernah menduga apa arti sebenarnya ayahku berkata seperti itu. banyak hal-hal yang kecil yang kadang tak pernah aku perhatikan dari ayahku. Banyak mungkin. Aku menyesal akan hal itu, namun untuk sekarang penyesalanku tak akan berguna apa-apa, sudahi saja kataku. Ayahku juga pernah bilang kepada ibuku sebelum pergi, ‘’aku titip anak-anak yaa’’ namun kita yang tak memperhatikan pun menganggap kata-kata itu berlalu saja. Tak ada kekhawatiran sedikitpun. Namun setelah ayahku pergi ibuku baru sadar kalau kata-kata ayah itu benar adanya. Kita saja yang tidak menyadari dan memperhatikannya.

Suatu ketika juga pernah menjadikan kami terhenyak, yaa tentang figura foto pernikahan ayah dan ibuku yang jatuh sebelum ayah pergi. Foto itu jatuh, kaca figuranya pecah dan tak bisa dibenahi lagi. Yaa, mirip cerita di sinetron memang, namun ya begitu adanya, foto itu memang pecah sekarang, dan tidak bisa dipasang lagi hingga sekarang.
Itulah hal yang selalu membuat aku sangat sedih kehilangan ayahku, aku yang tak selalu bisa memeperhatikan ayahku seutuhnya. Yaah memang semua rahasia Tuhan, tak kan ada yang bisa menebak dan mengerti hal apa yang akan terjadi setelah ini. Wallahualam..

sudah lemah dan renta

Seseorang yang kini terlihat di mataku menjadi renta, menjadi lemah dari hari ke hari. Seseorang yang selalu menyuapi ku saat kecil dulu, seseorang yang selalu menyiapkan sarapan lezatku, seseorang yang selalu menyuruhku untuk mandi sesegera, seseorang yang selalu menasihatiku jika aku salah, seseorang yang selalu menanyakan kabarku jika aku bepergian, seseorang yang selalu menyuruhku pulang jika aku pulang terlalu malam, seseorang yang selalu rela berpuasa untuk kesuksesan anak-anaknya saat ujian, dialah seseorang yang selalu menjadi kekuatanku.

Ya, seorang ibu yang telah melahirkanku ke dunia ini. Kini rambutnya yang mulai memutih, kini yang kantung matanya terlihat jelas, kini yang sudah tak kuat membawa beban berat lagi. Matanya berbinar penuh harapan, yaa harapan kepada kami, semua anak-anaknya. Berharap akan semua hal yang terbaik untuk kami semua. Berharap bisa mengepakkan sayap setinggi-tingginya walaupun kadang sayap itu harus putus sejenak dan harus dibenahi untuk sementara. Ya begitulah alur yang harus kami jalani bersama, tak akan mungkin selurus yang kita inginkan. Tak akan mungkin secepat yang kita inginkan. Tak akan mungkin semudah seperti yang kita inginkan. Itulah kehidupan di jalan Tuhan.

Terlihat ketika perempuan yang mulai memutih rambutnya itu mengatakan kepada kami semua, anaknya untuk mengejar cita-cita kami setinggi mungkin. Kami yang harus bisa lebih lebih dan lebih dari dia. Kami yang harus bisa lebih bahagia dari yang sekarang. Secuplik harapannya untuk kami semua. Terlihat pula ketika kadang kami membuatnya menangis karena kenakalan kami yang kadang tidak kami sadari menyakiti hatinya. Kami yang bisa tega melihat air mata keluar dari pipi yang sudah renta itu, sungguh hal yang menyakitkan memang. Maafkan kami yang sering melakukan hal seperti itu. Maafkan kami yang sering menyakiti hati ibu, maafkan kami yang sering membuat susah ibu, maafkan kami yang sering membuat ibu repot dengan tingkah kami, maafkan kami yang sering  tak mendengarkan nasihat ibu. Maafkan kami bu.. maafkan kami..


Doa dan harapan kami, semoga ibu bisa menemani kami hingga kapanpun (walaupun itu tak akan mungkin), semoga ibu bisa melihat kami tumbuh dewasa, semoga ibu bisa melihat kami sukses, semoga ibu bisa merasakan kebahagiaan yang kita rasakan kelak, semoga ibu bisa merasa bangga memiliki anak seperti kami, dan yang terakhir semoga kami bisa sedikit membalas lelah, keluh kesah, kebaikan, ketulusan , sayang kasih dan cinta selama ini ibu. Terimakasih ibu, terimakasih...